(Dra Lifya )
Dalam
sebuah tulisan diceritakan bahwa
kehidupan ini bisa juga diibaratkan
seperti sebuah telur elang yang akibat sebuah guncangan mengelinding hingga
tersangkut disangkar ayam. Induk ayam tidak pernah menolak untuk menyalurkan
kehangatan. Telur terus dierami sampai jangka waktu untuk menetaskan. Si induk
ayam tidak peduli apakah itu anak elang
atau anak itik maupun anak ayam yang ditetaskan. Ia akan menjerit jerit di
pinggir kolam melarang siitik berenang atau akan memburu siapa saja yang mau mendekati anak –anaknya yang mengajak keluar dari kebiasaan. Kepada anak-anaknya
induk ayam selalu mengatakan sekali ayam
tetaplah ayam.
Sampai
suatu saat anak elang bermimpikan
terbang melayang dialam yang terkembang. Jangankan untuk mengajarkan melihat elang terbang saja anaknya disembunyikan
oleh si induk ayam dari balik sayapnya yang mekar. Kelihatannya sianak elang
tetap dikondisikan sebagai anak ayam yang hanya diam karena segala upaya telah dikerahkan
tapi siinduk ayam kembali mengatakan
kamu anak ayam yang tidak bisa terbang.
Waktu
terus berlalu sampai sianak elang mati dalam impian. Ia tidak pernah menyadari
bahwa dirinya seekor elang yang dapat mengepakan sayap membawa burung-burung
lain untuk terbang.
Dibalik
kisah itu ada hikmah yang bisa diambil bahwa yang sangat dibutuhkan dalam hidup
adalah semangat. Semanagt dari dalam diri dan semangat yang tidak membunuh
karakter yang datang dari luar yang tidak melumpuhkan segalanya. Kalau ada kebisaan yang
membunuh karakter seseorang harus berani
untuk keluar dari peradapan tersebut kalau tidak tunggu sajalah nasib berkarat
lapuk dan terbuang.
Semangat
yang tidak membunuh karakter tersebut kami dapatkan juga dari bapak Johny Nurdin, MM. Yang selalu memompakan
semangat kepada guru-guru yang dibawah naungannya sebagai Kepala Bagian
Pendidikan Khusus Layanan Khusus. Beliau ingin semua gurunya maju tidak peduli
pegawai negeri maupun pegawai honorer
untuk dibukakan cakrawalanya.
“Guru-guru itu tidak mesti dimatikan potensi
dirinya”. Pesan yang sangat berharga yang selalu disampaikan.
“
Guru harus mampu mencerdaskan dirinya
sebelum mencerdaskan anak didiknya. “
Beliau
juga bertutur salah satu cara yang ditempuh untuk membuka cakrawala itu dengan
gemar membaca. Sepeti orang tua dizaman dahulu yang suka menceritakan kembali
apa yang sudah dibacanya kepada anaknya sebelum tidur. Atau mendongengkan seribu
kisah yang bermunculan dibenak seorang
ibu untuk menyampaikan pesan dan karakter supaya anak-anaknya menjadi orang
yang mulia.
Untuk
menjadi mulia jalan yang harus ditempuh adalah dengan berkarya . Dengan jalan
demikian semua yang berada dilingkungan siguru itu akan terbawa sejahtera.
Sehubungan dengan berkarya tersebut guru-guru SLBNI Padang belajar mencoba
untuk menuangkan hasil penelitian yang
dilakukan di kelas ke dalam sebah artikel. Ternyata hal yang mengganjal untuk
melengkapi syarat kenaikan pangkat selama ini mulai mendapat solusi. Bertahun
sudah guru-guru tersebut “jalan ditempat.”. Untuk menuju setingkat lebih tinggi
dari golongan IV a ke IV b guru harus mempunyai karya berbentuk publikasi
ilmiah yang sudah dipublikasikan dan Ber ISBN. Betapa sumringahnya wajah beliau mengetahui buku. PALITO KUMPULAN TULISAN GURU DAN KEPALA SEKOLAH SLB NEGERI I PADANG ditulis
oleh dua belas orang guru. Tak henti tangannya membalik dan mengintip tulisan yang tertera.Sesekali kembali lagi
kekulit luar sambil membaca nama-nama sang penulis yang terpampang nyata. Hal
yang membuat beliau takjub karena buku
itu diterbitkan oleh Fam sambil menunjukan logo dari penerbit tersebut. Banyak
hal yang berkenaan dengan proses terbitnya buku kecil itu yang beliau tanyakan.
“ Bagaimana cara mengerahkan dua belas orang
guru untuk menjadi penulis ?“ tanya yang terlontar.
Beliau
sangat mengapresiasi sekali dan memuji kepala sekolah yang memberi peluang
kepada gurunya untuk maju. Beliau juga akan terus memantau perkembangan Kepala
sekolah dan guru-guru yang berpotensi
ini serta kemajuan anak didiknya. Untuk mempermudah mengakses maka
diberitahukan juga bahwa sekarang
SLBNegeri 1Padang juga sudah mempunyai blog yang dapat dilihat di slbn 1
padang.blogspot.co.id. Serta merta dengan cekatan tangan beliau mengetikan
situs blog SLBN I Padang pada tust –tust
komputer yang ada dihadapannya.
Pada
akhir petemuan siang itu beliau berpesan “ Selamat dan terimakasih untuk kepala sekolah dan
guru-guru yang berkaya, maju terus tanpa henti”. Alhamdulillah terimakasih Pak
telah memberi semangat kepada kami. Kami tidak ingin seperti anak elang yang
dibesarkan ayam tadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar